Will I?

Beberapa hari sebelum ulang tahun ku yang ke tiga puluh lima.

Iya. Tigapuluhlima tahun.

Jika rata-rata hidup manusia adalah enam puluh tiga. Maka umurku sudah lebih dari separuhnya.

Akhir-akhir ini aku mulai (kembali) mengingat mati. Entah kenapa.

Mungkin karena itu hal satu-satunya yang pasti dalam hidup.

Semua mahkluk yang bernyawa pasti akan mati.

Jika ditanya siapa atau tidak untuk mati sekarang.. aku juga tidak tahu jawabannya… mungkin iya. Mungkin tidak.

Iya karena aku sadar jika sudah tiba waktuku untuk mati.. ya mati saja.. aku bisa apa?

Tidak.. karena masih sedikit bekalku untuk kehidupan setelahnya..

Jika mengingat dosa.. mungkin aku akan tinggal di neraka selamanya..

Tapi manusia tidak boleh pesimis kan?

Harapanku adalah jika memang kelak tiba masa aku harus mati.. aku ingin mati tanpa membawa beban dan penyesalan.. aku ingin mati dalam keadaan tersenyum.. dan di ingat oleh orang-orang sebagai aku yang baik-baik saja.. seperti yang lain, aku juga ingin mati dalam keadaan khusnul khatimah.. (aamiin).

Kenapa ya.. rasa-rasanya hidup yang sekarang kujalani juga begini-begini saja.. kupikir-pikir, seperti nya aku mulai mati rasa.. mulai tidak lagi percaya bahwa aku berhak bahagia..

Entahlah.

Karena setiap kali aku merasa sungguh bahagia, selalu dalam waktu yang tidak lama, kebahagiaan itu direnggut paksa.. sepertinya ada sesuatu yang gelap yang membuat aku merasa seolah aku tidak berhak bahagia..

Dan karena itu.. aku akhirnya memilih untuk tidak lagi menunjukan perasaanku yang sesungguhnya… karena aku terlalu takut jika rasa itu kembali direnggut dariku…

Tapi manusia harus optimis kan?

Tuhan berkata bahwa IA sangat dekat. Bahwa IA mengabulkan semua doa.

Aku percaya. Sungguh.

Tapi ketika menyadari bahwa semua di dunia ini berpasangan..

Aku sadar bahwa jika ada bahagia pasti ada duka. Ada tawa ada tangis. Ada surga ada neraka.

Sebagaimana duka, bahagia juga tidak selamanya. Mereka yang tertawa akan tiba menangis pada waktunya.

Lalu untuk apa?

Mungkin.. “live the moment” akan lebih tepat. Entah apa bahasa Indonesianya.. tapi menurutku begitu juga tak apa.. hidup pada saat ini. Tak usah khawatir nanti akan bagaimana. Bahagia. Sedih. Tidak apa-apa. Menikmati rasa.. tanpa banyak bertanya.. mungkin baiknya begitu saja.. atau tidak?

Usiaku sudah tiga puluh lima. Dan masih saja suka lupa bahwa hidup di dunia ini sementara. Masih sering merasa baik-baik saja. Padahal mungkin sebaiknya mulai berbenah diri. Mempersiapkan yang sudah pasti.. seperti kematian, misalnya…

Bukan malah sibuk dengan diri sendiri dan mencari-cari cinta….

Ahh.. aku bahkan sudah tidak tahu lagi jodohku ada dimana… aku lelah mencarinya… mungkin sebaiknya sekarang aku diam saja disini.. siapa tahu dia datang sendiri.. ya kan?

Kamu pernah bertanya apa aku pernah takut tidak bertemu jodoh di dunia?

Aku akan selalu berkata.. tidak. Karena Tuhan sendiri yang berjanji bahwa kita semua punya pasangan. Dan aku masih sangat percaya.

Hanya saja.. ย perjalanan mencari cinta dan jodoh ini sangat melelahkan ya ternyata….

Ah. Iya. Beberapa waktu lalu aku dikenalin sm orang. Tapi… seperti yang sudah-sudah.. mereka sekarang menghilang.. aku juga tidak akan kaget lagi kalau suatu ketika menemukan kabar berita mereka sudah menikah… kisah hidupku kan biasanya begitu…

Entah apa maksud Tuhan memberiku pelajaran yang demikian.. aku masih gagal paham..

Mungkin itulah kenapa aku belum juga lulus dari ujian percintaan.. terlalu bebal untuk menyadari pelajaran yang diberikan…

Ah. Entahlah.

Akhir-akhir ini aku mulai berpikir.. mungkin aku tidak usah menikah saja. Memikirkan menikah saja tiba-tiba membuat kepalaku sakit. Belum ditambah rumitnya mencari jodoh yang tepat. Bagaimana nanti berkeluarga. Duh. Pening.

Padahal umurku sudah tiga puluh lima. Bayangkan.

Padahal aku pernah bercita-cita menjadi ibu rumah tangga biasa saja.

Kalau akhirnya aku merasakan nyaman dengan kesendirian seperti ini… apa kaj mungkin cita-citaku bisa terlaksana?? Apakah masih ada yang mau hidup denganku?

Ahh… aku tidak mau pesimis. Sungguh.

Tapi.. umurku sudah tiga puluh lima.

Wajar kan jika aku merasa khawatir dengan masa depan???

Dan aku juga tidak mau jika kelak aku mati sendirian…

Wajar kan??

 

Ps. Maaf ya. Tulisan kali ini agak depresi…


 

Wageningen, 20 Desember 2017

Advertisements

Aku Kembali

Aku kembali setelah 3 tahun 8 bulan gak ngeblog di sini. Terakhir tulisanku Maret 2014. Ampun lamanyaaaa! Gak terasa ya.

Aku mau cerita belakangan lagi dekat sama seseorang, sekitar 3, 5 bulan. Penjajakan, tapi putus sebelum jadian. Tapi, masih dekat. Malah makin akrab banget. Dan, aku tahu dia dekat dengan sejumlah perempuan lain juga. Duh. Aku sebenarnya gak suka dia begitu. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, itu bagian dari upayanya yang juga sedang mencari jodoh yang tepat. Lalu, aku jadi memaklumi. Dan, tetap aku pertimbangkan sebagai calon pasangan. Aku pernah ajak dia nikah, dia belum yakin sama aku akan bisa saling bahagia. Naaaaah, aku kudu piye?

Saat itu aku hanya terfokus ke dia. Ada yang datang, kuabaikan. Tapi, suatu hari aku tersadar untuk coba memberikan kesempatan pada yang datang. Awalnya aku rencana mau membuka kesempatan dua bulan lagi, persis awal Januari 2018. Aku ingin hatiku tertata dulu. Nggak penuh emosi. Tapi, sepertinya tidak perlu menunggu dulu karena sudah ada yang ketuk-ketuk pintu hatiku. Halaaah.

Baiklah. Aku coba kasih kesempatan pada dua orang baru. Semua kenal lewat media sosial. Biasanya karena terhubung satu grup. Saat keduanya menghubungi, aku cek profil latar belakang pendidikan, pekerjaan atau kegiatan, dan perfoma. Kalau kesan pertama oke, lanjut komunikasi.

Perfoma yang kumaksud itu tampilan dan aura sosok secara keseluruhan. memastikan pada kesan pertama dia orang baik-baik. hihi.

Nah, jadi kini ada 3 cowok yang lagi kukasih kesempatan. Semua intens komunikasi. Sebelumnya aku lebih sering fokus satu, selesaikan dulu. Kalau gagal, baru ganti yang lain. Tapi kali ini aku ubah pola. Jaring yang prospektif sebanyaknya, dalam waktu bersamaan gpp. Baru dinilai mana yang paling sungguh-sungguh.

Aku nggak menyebut ini pacaran, tapi penjajakan. Aku bilang ke mereka bahwa hubungan ini dalam rangka upaya untuk menjajaki apakah bisa saling cocok atau tidak, apakah bisa berjodoh atau tidak.

Sakjane aku mumet, tur wis kesel banget. Berasa pacare telu tapi hati belum sepenuhnya berasa memiliki. Auwooo. Tapi, aku juga gak tahu bagaimana seharusnya menemukan soulmate. Itulah yang bisa aku lakukan. ๐Ÿ™‚

Aku kudu piye jal?

Saat itu aku sambil dengarkan musik semacam untuk law of attract.

Aku sebenarnya suka dia, andai saja ia hanya kepadaku gak bisa setia. Selain itu, dia keberatan soal aku yang lebih tua setahun darinya. Padahal sejak awal pun dia tahu umurku. Belakangan bilang mau mencari yang jauh lebih muda. Dan, aku masih suka. Tapi, aku harus realistis untuk cari yang lain. Setidaknya memberi kesempatan pada yang lain.

Aku gak tahu mau nyari jodoh di mana, wong katanya jodoh sudah tertulis ya. Lah njuk piye? Baiklah, setidaknya aku mau mencoba merespon yang datang. Ini bagian dari usahaku mencarinya.

Jangan bilang siapa-siapa. Baru kali ini aku menjalani cerita kasih langsung tiga. Aku akan memilih yang paling sungguh-sungguh dan membuatku nyaman dan bahagia. Bagaimana kabar cerita kasihmu di situ?

Depok, 15 Desember 2017

Mengingat kembali

Kali ini, aku ingin cerita tentang awal mula kenapa aku mengambil jalan ini. Jalan yang tidak mudah. Namun satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari kehancuran yang lebih parah.

Maka kali ini aku ingin mencoba jujur dan mengingat kembali.. mencoba menggali satu-satu alasan kenapa aku sekarang berada di jalan ini.

Di perjalanan yang sangat tidak mudah dan selalu membuatku ingin menyerah.

Tapi kamu tahu.. aku bukan orang yang mudah berhenti di tengah jalan. Aku akan menyelesaikan apapun yang sudah aku mulai. Meski sesulit apapun. Aku akan selesaikan. Meski membutuhkan waktu yang lama. Pasti akan aku selesaikan. Meski kaki jadi kepala dan kepala jadi kaki. Ini pasti akan ada akhirnya.

Maka.. jika kemudian aku berusaha mengingat kembali alasan-alasanku ketika mengambil jalan ini, besar kemungkinan aku akan baik-baik saja. Ya kan?

Semoga benar begitu.

Entahlah.

Mungkin saja alasan awal mula aku memilih jalan ini juga salah.

Kamu tahu kan kalo aku mengambil kesempatan ini hanya karena aku ingin lari dari kenyataan yang pahit?

Iya. Hanya karena aku ditinggal nikah oleh seseorang yang aku anggap dekat.. orang yg aku anggap penting tapi ternyata ia tidak memiliki perasaan yang sama.. sialan!

Aku memilih melanjutkan sekolah karrna waktu itu aku patah hati. lagi. Untuk kesekian kali.

Entah mengapa siklus itu berulang. Aku sudah tidak paham. Tuhan mungkin sedang ingin bermain-main denganku. menguji seberapa kuat hatiku, maka IA membuatnya patah berkali-kali. Membuatku ditinggalkan nikah berkali-kali. Dibodohi berkali-kali.

Atau.. mungkin aku saja yang terlalu bodoh hingga tidak juga mengerti dengan pelajaran yang ingin IA sampaikan padaku. Sehingga hal yang sama selalu terjadi berkali-kali. Berulang-ulang.

Hingga tiga tahun lalu, ย bagiku, lari dengan sekolah lagi adalah satu-satunya caraku untuk menyelamatkan diri dari hancur nya hati. Lari sejauh-jauhnya, menghilangkan dia dari pandangan. Mencoba melupakan dan memnuat ia hilang dari ingatan.

Karena aku membencinya. Sungguh.

Dan melihatnya tertawa bahagia membuat hatiku sakit parah. Dan aku benci diriku sendiri.

Ah.. kau tahu? Ia bahkan tidak memberitahukan hari bahagianya padaku. Sama seperti juga mereka yang sudah-sudah. Aku adalah orang terakhir yang tahu tentang pernikahan nya. Lucu kan?

Aku sakit hati. Bukan karena ia pergi. Tapi karena ternyata bagi nya, aku tidak cukup berarti.

Dan aku cukup tahu diri untuk tidak perlu lagi menganggapnya penting dalam hidupku.

Maka aku memutuskan untuk berhenti menganggapnya berarti.

Karena ia tidak menganggap aku ada, maka aku akan berhenti menganggap ia ada.

Cukup adil bukan?

Aku tidak ingin lagi mengingatnya.

Aku akan anggap ia tidak pernah ada.

Bahkan jika suatu saat kami bertemu tanpa sengaja..

Aku akan menganggap ia angin lalu.

.

.

.

.

Sejahat itu saja yang aku mampu….

 

 


Wageningen, 04 Desember 2017

 

Until the day I die..

Kisah ini masih tentang jatuh cinta.

Ya. Seperti yang sudah aku ceritakan beberapa waktu lalu, bahwa ternyata serapuh-rapuhnya hati, ia masih kuat menanggung sakit sekali lagi. Kita terlalu meremehkan kemampuan hati untuk bertahan. Meski berkali-kali patah ia masih sanggup untuk jatuh cinta lagi. Seolah tidak pernah belajar.

 

——

Hari ini, aku menemukan draft tulisan ini. Entah apa yang ingin aku tulis waktu itu.

Mungkin cerita tentang kisah-kisah jatuh cinta. Atau.. patah hati.. aku sudah lupa.

Tapi.. aku bersyukur menemukan media ini lagi. Ayo kita mulai menuliskan yang sempat terlewatkan. Keseharian yang belum tersampaikan.

Sementara itu… disini sudah mulai masuk musim gugur. Besok ada meeting dan aku harus menyiapkan presentasi.

Doakan aku ya!

 

Wageningen, 2017

Hi..

Selamat pagi..

siang, sore, malam..

Kamu apa kabar?

Dimanapun kamu berada, semoga baik-baik saja.

Rumah kita yang satu ini, sudah hampir lebih dari setahun tidak ditengok.

Kasihan.

Aku lihat tulisan terakhir di halaman ini adalah tulisanmu.

Maret 2014.

Dan sekarang sudah bulan Juli 2015.

Cukup lama dibiarkan terlantar.

Aku sendiri tidak ingat lagi kenapa waktu itu aku berhenti menulis disini.

Tapi aku ingat, tahun lalu, hatiku patah. Parah.

Seperti yang sudah aku ceritakan padamu, kan?

Akhirnya, aku cuma mau bilang, ternyata aku masih sendiri hingga hari ini.

Sebenarnya sudah lelah,

tapi perkara jodoh, kau sendiri tahu betapa ia tidak mudah

Mungkin, aku sendiri yang membuatnya sulit..

entahlah.. aku sudha tidak lagi punya banyak teori tentang itu..

Biar saja waktu yang menjawab.

Aku rasa, jika sudah tiba saatnya, ia akan mudah.

Itu yang kita percaya, kan?

Lalu kamu,

apa kabar dengan kisah cintamu?

Wageningen, 13 July 2015

ps. iya. aku kembali lagi ke belanda. akhirnya. ๐Ÿ™‚

Seseorang, Pekerjaan, dan Mimpi

Hai… aku juga akhirnya kembali di sini. Setelah sekian minggu nggak tengok ini karena aku menunggu tulisanmu dulu. ๐Ÿ™‚

Banyak kisah terjadi sebulan ini, tentang seseorang, pekerjaan, dan mimpi.

Pertama, tentang seseorang yang sudah kuanggap pergi. Dia datang dan pergi sesuka hati. Apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang begini? Hihi. Tapi bagaimanapun pasti ada kebaikan di balik kehadiran seseorang. Jadi, ya sudah, kuingat yang baik-baik saja. Kali ini aku juga gak sedih. Padahal aku merasa, aku suka dia dan harusnya aku patah hati. Tapi, kamu tahu sendiri, aku punya alasan yang sangat cukup apabila kisah ini tak berhasil. Tak ada yang perlu ditangisi dan tak perlu kehilangan. Dan masih optimis, berharap tahun ini bisa menemukan cinta lagi. ๐Ÿ˜‰

Kedua, tentang pekerjaan. Bulan ini overload. Aku menangani 4 naskah. Menulis satu naskah tema buah, mengedit satu naskah tema hukum dan ekonomi, dan mengawal dua naskah penulisan tema politik dan populer. Untuk yang terakhir maksudnya, aku mengawal dua penulis untuk mengingatkan mereka menyelesaikan naskah sampai batas waktu yang ditentukan. Karena sudah turun surat perintah kerja untuk si penulis, jadi aku harus memantau perkembangannya. Sembari memandu outlinenya. Pokoknya setiap saat si penulis bisa menghubungiku untuk diskusi penulisan. Bila penulis terlambat menyetorkan naskah, itu juga berpengaruh terhadap nilai kerjaku. Jadwal editing terlambat, setting terlambat, dan terbit terlambat. Makanya, aku juga terlibat membantu mengurutkan materi, mencarikan foto, sampai cek dan recek konten sejak masih dalam proses penulisan agar mempercepat penulisan.

Ketiga tentang mimpi, aku ingin mengembangkan kemampuan menulis, kali ini di bidang copywriting alias penulisan advertorial. Berharap punya kesempatan mengapikasikan dengan serius dan terus menerus. Dan ingin punya bekal persiapan yang cukup untuk sekolah lagi agar mendapatkan pengetahuan yang sistematis dan meningkatkan skill di bidang yang kutekuni.

Kayaknya gitu dulu, semangat weekend. ๐Ÿ™‚

Depok, 2 Maret 2014

aku kembali..

Hi..

Lama ya ga nengokin rumah yang ini.

*Bersih-bersih sarang laba-laba* *potong rumput* *siramin bunga-bunga*.

Hehe..

Banyak yang terjadi. Dan sayangnya hingga hari ini ternyata masih belum bisa cerita.

Aku tidak tahu harus menulis apa. Tapi setidaknya aku masih ingat jalan untuk sampai ke rumah yang ini. Dan meninggalkan jejak setelah sekian lama..

Oia, di kantor sedang banyak banget kerjaan. Beberapa paper masih menunggu untuk submit. Doakan moga2 diterima dan segera bisa terbit. Lumayan untuk track record ku sebagai peneliti.. hehe..

Dan seperti yang kau sudah tahu, tahun ini aku gagal untuk lanjut kuliah ke Belanda. Setelah ini apa? Entahlah. Aku masih belum bisa memutuskan. Dan mungkin ini juga salah satu dari yang membuat aku patah hati cukup parah.

tapi yasudahlah. Kita lihat saja nanti bagaimana.. Aku yakin semua akan baik-baik saja..

Good luck untuk apapun yang sedang kau lakukan disana…

ps. hari ini valentine’s day. semoga kita segera dipertemukan dengan cinta sejati yang selama ini kita cari-cari..

Cibinong, 14 Februari 2014

ย 

Entah Apa Ini Namanya

Masih terkait alasan ngeblog. Kali ini aku juga ingin ngeblog untuk menumpahkan unek-unek. Menumpahkan isi hati alias curhat. Dari pada hanya tersimpan di dada, lalu menimbun di kepala bisa bahaya, mending ditulis saja.

Tentang hubunganku sama seseorang yang kuceritakan sebelumnya, kini penuh drama. Ribut, baikan, ribut lagi, baikan lagi, lalu terakhir diem-dieman. Mau dibawa kemana hubungan yang seperti itu? Kami bukan remaja lagi. ๐Ÿ™‚

Kalau memang benar dia serius, kutantang dia ke sini. Dia maunya aku ke sana. Aku tadinya males banget, masa aku yang harus menjemput bola. Dia yang mulanya ngejar aku, kok jadi aku yang kemudian mengejar dia. Sepertinya bumi kemarin sejenak berputar balik kali ya. Haha. Tapi karena teman baiknya menyarankan aku atas nama emansipasi wanita dan memperjuangkan cinta, aku akhirnya sempat akan memutuskan ke sana menemuinya.

Sebentar, “cinta”? Mungkin belum bisa disebut cinta, aku cuma penasaran bisa-bisanya kenal sama orang seperti dia. Kami banyak ribut bisa jadi karena bahasa tulis berbeda dengan bahasa lisan. Kalau bertemu langsung mungkin keadaannya akan lain, tidak banyak salah paham. Tadinya aku mikirnya begitu. Tapi setelah aku meredakan egoku, aku bilang baiklah aku yang akan menemuinya. Lalu apa yang terjadi? Kini sudah dua hari dia tak lagi balas pesanku–meskipun dibaca, ada tanda “read”.

Baiklah, anggap saja hubungan itu sudah berakhir tanpa ada kalimat akhir. Ini mungkin akan menjadi kisahku yang paling singkat. Duh, nambah-nambahi daftar nama mantan aja. :(. Inilah hidup, kadang jatuh hati, kadang patah hati, kadang hambar, kadang lelah, kadang entah apalagi. Aku coba menikmati saja apa yang sedang terjadi. Ketika hubungan tak bisa diperjuangkan, saatnya dihadapi. Mungkin besok pagi atau lusa aku menemukan cinta baru lagi. Hehe.

Sebenarnya keinginanku nggak muluk-muluk. Aku ingin menemukan seseorang yang bisa menjalin hubungan dengan “feel”, saling mendukung, dan tidak saling menyakiti. Dimanakah soulmateku? Hohooo.

Cibubur, 9 Januari 2014.

Mengapa nge-blog?

Tema lama ya? Basi! Hahaha..
Tapi gpp. Udah lama sebenernya pengen nulis tentang ini, tapi ga jadi-jadi. Malas adalah salah satu alasannya. ๐Ÿ˜€

Okelah. Daripada kelamaan pending, kebanyakan alasan menunda posting tentang ini, maka akhirnya diputuskan hari ini menulis tentang itu saja. yay! akhirnyaaโ€ฆ

Jadi sebenarnya alasan utama nge-blog ya gak lain dan ga bukan adalah hanya karena suka nulis (curhat?). Sejak kecil suka corat-coret gitu di buku diary, curhat, nulis puisi atau cerpen, untuk konsumsi pribadi. Kenapa ga dikirim ke media? Karena malu dan ga pede. Pernah sih kirim tulisan beberapa kali ke berbagai media tapi lebih sering ditolaknya atau tanpa kabar berita. Yasudahlah. Mutung. hehe..

Pengen lah suatu waktu nanti bikin buku, nulis beneran ga cuma ditulis di blog pribadi. nulis-nulis yang agak bermutu dikit gitu ga cuma curhat galau geje kaya selama ini.. hahaha.. tapiiih.. kok ya sulit ya? #alesan

Alasan lain sih menulis sebagai terapi. Sebagai seseorang yang gampang banget kena stress, moody dan galau, halah, menulis ini semacam terapi. ya kalau ga nulis, bisa-bisa meracau ga jelas, tar ngomong sendiri gitu malah bikin repot orang sekampung. nah, menulis ini kayak jadi terapi buat ngomong ke diri sendiri. ya atau untuk siapapun yang baca dan merasa membutuhkan. kok isinya galau? geje? ya gimana. menurutku gpp sik karena emang prosesnya sedang begitu. daripada dipendam sendiri gabisa terekspresi malah repot. tau-tau bunuh diri. loncat dari lantai sepuluh misalnya. jadi lebih salah lagi kan? #iyowiskarepmu

Masih pengen belajar nulis yang bener sik. yang agak serius gitu temanya. tapi untuk yang ini kayanya masih jauh yak. secara nulis curhat aja suka salah kata, typo disana sini, huruf besar huruf kecil ga jelas. semacam itulah. tapi ya namanya belajar proses, dinikmati sajalah. kritik disana sini itu biyasa. ndak perlu dibikin jadi masalah besar. terus berbuat baik dan memperbaiki diri terus menerus saja. masalah lain ga perlu dipikirkan banget.

Apalagi yah? hmm.. blog itu juga tempat bermain. blog personal, didalamnya juga tanggung jawab personal. isinya juga personal. ga mutu? ya biarin. wong ga ada yang menilai juga. kalau jaim malah aneh. ya mungkin kalau kenal secara personal ga akan menyangka blognya sedemikian geje. hahaha.. tapi ya terserah aja sik. kan ga ada yang nyuruh situ mampir disini kan? ๐Ÿ˜€

Punya beberapa blog. pernah di multiply, pernah di friendster. trus di wordpress ada beberapa juga, blog sendiri dan blog bersama. nulis di notes fb juga meski lebih sering dipindah ke blog ini. kalo microblogging ya di twitter. meracau bebas sesukanya saja kalau disana. semisal status lebih sering kontroversial ya biarin aja. toh kalo emg ga suka bacanya juga disana ada fasilitas tombol utk mute dan unfollow atau block kan? bebas! Hahahaha..

So far itu sih alasan mengapa nge-blog. Tar kalo punya alasan lain ya tinggal ditambahin. Beres! ๐Ÿ˜€


Cibinong, 6 Januari 2014

Welcome 2014

2014 Be Nice For Me

2014 ini aku pingin apa ya? Nikah sudah pasti ingin, masalahnya calonku juga belum ada. Atau kalau nggak ya sekolah lagi. Syukur bisa di luar negeri, kalau nggak ya di sini gpp. Soal pekerjaan, aku ingin melakukan lebih baik dari yang sudah-sudah. Ingin lebih bisa memenej konsentrasi. Juga kelainan rasa cemasku bisa benar-benar sembuh total.

Beberapa waktu lalu aku telepon kamu menyinggung tentang seseorang yang pedekate tapi caranya aneh banget. Kali ini aku akan membahasnya. Nggak usah disebutkan anehnya seperti apa, off the record. :-). Sebenarnya aku kenal dia sejak setahun lalu, awalnya hanya via email. Saat itu dikenalkan oleh seorang kakak angkatan alumni kampus kita karena aku perlu informasi tentang biaya hidup di bangkok (saat itu aku sedang coba daftar ke Recoft Bangkok :D). Dia pernah kuliah dan bekerja di Bangkok. Lalu menempuh PhD di negera lain. Dari emailnya aku menemukan blognya. Aku membaca hampir semua tulisannya dan bahkan kupasang di daftar salah satu blog yang kuikuti. Selain tulisan-tulisannya yang inspiratif, dia juga (menurutku) saat itu hebat. Masih sangat muda (adik angkatan) prestasinya banyak. Bukan hanya prestasi akademik, melainkan juga dalam kepemimpinan. Meski begitu, saat itu belum pernah kepikiran suka atau disukai dia. Lagian nggak pernah komunikasi intens saat itu.

Hingga sekian waktu lalu, aku menemukan sebuah nama di FB. Nama yang tidak asing. Namanya! karena itulah aku add. Lagian aku dan dia kan sudah kenalan setahun sebelumnya via email. Akhirnya ketemu lagi di FB. Setelah dia approve, dia kirim message. Aku balas sekedarnya. Tapi kemudian dia kirim message terus menerus, jadilah kami intens komunikasi. Lalu katanya dia tertarik mau maju pedekate sama aku, aku juga (sepertinya) tertarik sama dia, hingga kemudian dia menjadi “aneh” dan menurutku ada yang tidak beres. Akhirnya kami ribut. Haha.

Ributnya sampai parah hingga kublokir FBnya. Lalu ketemu lagi di BBM, malah komunikasi dilanjutkan dengan pertengkaran lagi. Ketemu lagi di email, agak mereda. Itupun aku yang meredakan, kalau nggak, dia ngajak bertengkar terus. Heran aku ketemu orang kayak dia. Dia brondong 2 tahun lebih muda dariku tapi aku seperti menghadapi anak SD. Ngajak betengkar terus dan nggak mau ngalah. Ditambah pula dia menyebutku Bawel. Rrrrrr!

Hingga sampai detik ini komunikasi ribut dengannya sudah mereda. Nggak tahu besok kalau dia tiba-tiba kirim email yang isinya meradang. Aku tahu banyak keburukannya, tapi entah kenapa aku justru tertantang untuk membuatnya bisa insaf. Aku tahu aku bukan siapa-siapa, aku juga punya banyak kekurangan dan nggak pantes juga nasehatin orang. Tapi kalau interaksi sama dia, aku tergerak untuk menasehati terus. Dalam keadaan yang tepat dia mau mendengarkan, tapi dalam keadaan lain, dia keras kepala. Karena aku kebanyakan ngasih dia nasehat, makanya dia nyebutku Bawel. hehe. Sejujurnya aku selalu berdoa dipertemukan dengan seseorang yang aku dan dia saling memiliki feeling. Lalu, tiba-tiba kemunculannya membuat feelingku terbangun. Entah kenapa. Kupikir setelah ternyata banyak tahu keburukannya, feelingku tak hilang. Saat dia nembak aku, sejujurnya aku juga suka. Tapi aku belum jelas bilang iya. Aku hanya membiarkan dia terus menghubungiku. Aku masih ingin lihat kesungguhan dia. Jadi harus bagaimana?

Begitulah akhir tahunku ditutup dengan kisah itu. Tahun baruku juga masih tentang kisah itu. Lagipula aku kan belum ketemu langsung. Jujur aja ya, dulu jaman kuliah aku pernah menghadapi orang semacam dia. Agak repot memang, tapi untuk kali ini itulah satu-satunya pilihan feelingku. Jika Tuhan menghadirkan ke hadapanku, mungkin karena aku sanggup untuk menghadapinya. Dan tak kubohongi di hatiku yang terdalam aku masih belum yakin betul, masih bertanya-tanya inikah orang Tuhan pilihkan untukku? Aku menjadi terlatih untuk tidak terlalu berharap banyak ketika memulai sebuah hubungan. Tapi ketika aku tak berani mencoba, aku tidak bergerak kemana-mana. Kalau kata Donal Bebek, hidup ini bukan surga, kita tak harus sempurna untuk menjalaninya. Doakan saja yang terbaik ya.

Kita telah lama berbagi, aku tahu kita ( aku dan kamu) lelah dengan pencarian ini. Kuerharap kita sama-sama menemukan soulmate dan menikah tahun ini. Mari berdoa. Oke ntar kalau ada kandidat yang prospektif kukenalkan padamu. Btw, aku juga minta tolong beberapa teman untuk dibantu dicarikan jodoh, jodoh bisa datang mellaui perantara siapapun. Jodoh memang misteri, konon akan datang sendiri. Tapi kita harus memberi jalan agar dia bisa sampai di sini. ;-). Good luck buat kita.

Selamat tahun baru. Oh ya, selamat ulang tahun buatmu akhir bulan lalu. Maaf terlambat sekali. Semoga tergenapi semua yang kamu cita-citakan dan jangan lupa untuk selalu berbahagia. ๐Ÿ˜‰

05 Januari 2014.